HADITS KE-1221
وَعَنْ أَنَسٍ
رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَاَلَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ - أَوْ لِأَخِيهِ- مَا
يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Anas bin Malik radhiallâhu 'anhu dari
Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah
(sempurna) iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya
sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri". (H.R. Muttafaqun 'Alaih).
Catatan: Lafazh
hadits diatas terdapat dalam Shahih Bukhari tetapi tanpa kata yang kami
garisbawahi "bin Malik ". Kami cantumkan demikian karena naskah
aslinya dari kitab "Jami'ul 'ulum wal Hikam" demikian.
Takhrij Hadits secara global
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan
Imam Muslim, juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad, at-Turmuzi, Ibnu Majah, an-Nasai
dan Ibnu Hibban.
Makna hadits secara global
Dalam hadits diatas, Rasulullah menjelaskan
bahwa salah satu dari ciri kesempurnaan iman seseorang adalah dia memberikan
porsi kecintaan terhadap saudara nya se-iman melebihi cintanya pada dirinya
sendiri.
Penjelasan tambahan
Dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Imam
Ahmad terdapat penjelasan tentang makna penafian iman dalam hadits diatas yaitu
menafikan pencapaian hakikat dan puncak keimanan karena banyak sekali
disebutkan dalam hadits-hadits Nabi tentang penafian iman lantaran tiada
terpenuhinya sebagian dari rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban yang terkait
dengannya. Seperti dalam makna sabda beliau: "Tidaklah seorang pezina
melakukan perbuatan zina ketika dia melakukannya; sedangkan dia dalam keadaan
beriman, dan tidaklah seorang pencuri melakukan pencurian ketika dia mencuri;
sedangkan dia dalam keadaan beriman, dan tidaklah meminum khamar/arak ketika
dia meminumnya; sedangkan dia dalam keadaan beriman". Juga dalam seperti
dalam sabdanya yang lain: "Tidaklah beriman (sempurna imannya) orang yang
tetangganya tidak aman dari ucapan-ucapannya".
Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik
diatas, menunjukkan bahwa seorang Mukmin merasa senang dan gembira bila
saudaranya se-iman merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan. Begitu
juga, dia ingin agar saudaranya itu mendapatkan kebaikan seperti yang
dianugerahkan kepadanya. Hal ini bisa terealisasi manakala dada seorang Mukmin
secara sempurna terselamatkan dari penyakit dengki dan ngibul. Sebab sifat
dengki mengindikasikan bahwa si pendengki tidak suka bila kebaikan seseorang
melebihi dirinya atau bahkan menyamainya. Dia ingin agar kelebihan yang ada
padanya selalu diatas orang lain dan tidak ada orang yang menyainginya
sedangkan keimanan mengindikasikan sebaliknya; yaitu agar semua orang-orang
yang beriman sama-sama diberikan kebaikan seperti dirinya tanpa dikurangi
sedikitpun. Oleh karena itu, dalam KitabNya Allah memuji orang yang tidak ingin
menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dia Ta'ala berfirman:
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin
menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..". (Q.,s. 28/al-Qashash:
83).
Diantara hadits yang semakna dengan hadits
Anas diatas, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu'adz,
bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tentang
iman yang paling utama, maka beliau bersabda: "iman yang paling utama
adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, engkau
pekerjakan lisanmu dalam berzikir kepada Allah". Mereka lantas bertanya :
kemudian apa lagi wahai Rasulullah! , beliau menjawab: "engkau mencintai
manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri dan engkau benci (sesuatu
yang buruk terjadi) terhadapnya sebagaimana engkau membenci hal itu terjadi
terhadap dirimu, dan engkau berkata dengan perkataan yang baik atau engkau
diam". Namun dalam memaparkan hadits ini, Mushannif memakai lafazh
"ruwiya" dimana dalam istilah hadits merupakan bentuk yang
menunjukkan "tamridh" alias hadits ini masih dipertanyakan
keshahihannya dan kevalidan sumbernya meskipun dari sisi makna adalah shahih.
Implikasi dari terpatrinya sifat iman diatas
Diantara implikasi dari tercapainya keimanan
melalui sifat mencintai saudara se-iman seperti tersebut diatas adalah bahwa
sifat tersebut dapat membawa pemiliknya masuk surga. Hal ini dipertegas dalam
hadits-hadits lain, diantaranya: hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari
Yazid bin Asad la-Qasri, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda kepadaku: "apakah kamu menginginkan surga?, aku berkata: Ya, lalu
beliau bersabda: "oleh karena itu, cintailah saudaramu sebagaimana engkau
mencintai dirimu sendiri". Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari 'Abdullah bin 'Amru bin al-'Ash dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam, beliau bersabda: "barangsiapa yang ingin agar dirinya dijauhkan
dari api neraka dan dimasukkan ke surga, maka hendaklah saat dia menemui
ajalnya dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan dia memberikan
kepada manusia sesuatu yang dia suka hal itu diberikan kepadanya".
Hal ini juga diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari, dia
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "wahai
Abu Dzar! Sesungguhnya aku melihatmu seorang yang lemah, dan aku mencintaimu
sebagaimana aku mencintai diriku sendiri; janganlah engkau menjadi amir
(pemimpin) atas dua orang, dan janganlah pula engkau menjadi wali atas harta
anak yatim". Mengomentari hadits ini, Mushannif mengatakan bahwa beliau
Shallallahu 'alaihi wasallam melarang Abu Dzar untuk melakukan hal tersebut
lantaran beliau memandang bahwa dia (Abu Dzar) merupakan sosok yang lemah dalam
hal itu (memimpin/leadership), sedangkan beliau mencintai setiap orang yang
lemah, termasuk Abu Dzar sendiri. Adapun kenapa beliau dapat menjalankan tugas
mengatur urusan orang banyak, hal itu karena Allah telah memberikan kekuatan
kepada beliau untuk melakukannya, dan memerintahkan kepada beliau untuk
mengajak seluruh makhluk agar loyal terhadapnya serta mengembankan tugas kepada
beliau untuk mengarahkan urusan agama dan dunia mereka.
Ada riwayat dari 'Ali bin Abi Thalib yang
intinya menunjukkan bahwa dia merealisasikan hadits Anas diatas sebagaimana
Rasul juga telah merealisasikannya, namun riwayat tersebut masih dipertanyakan
keshahihannya bahkan ada yang mengatakan kualitasnya lemah sekali.
Permasalahan hadits
Ada beberapa permasalahan yang terkait dengan
hadits diatas:
1) Masalah pelaku dosa-dosa besar (Murtakibul
Kaba-ir)
Para Ulama berbeda pendapat mengenai pelaku
dosa-dosa besar; apakah dia seoraang Mukmin tetapi iman nya kurang ataukah dia
tidak dinamakan sebagai seorang Mukmin tetapi disebut sebagai seorang Muslim?.
Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang keduanya merupakan riwayat dari Imam
Ahmad.
Sedangkan terhadap pelaku dosa-dosa kecil
(Murtakibush Shagha-ir), maka lebel "iman" tidak hilang darinya
secara keseluruhan tetapi dia adalah seorang Mukmin yang kurang imannya dan
kekurangan ini terjadi sesuai dengan dosa yang dilakukannya.
Mengenai pelaku dosa-dosa besar diatas,
pendapat yang mengatakan bahwa pelaku dosa-dosa besar adalah seorang Mukmin
yang kurang imannya berasal dari Jabir bin Abdullah (seorang shahabat), Ibnu
Mubarak, Ishaq bin Rahawaih, Abu 'Ubaid, dan lain-lain. Sementara itu, pendapat
kedua yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah seorang Muslim bukan
Mukmin berasal dari Abu Ja'far, Muhammad bin 'Ali. Mushannif menyebutkan bahwa
ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa pendapat ini merupakan pendapat yang
dipilih oleh Ahlus Sunnah.
Berkaitan dengan iman, Abdullah bin Rawahah,
Abu Darda', Imam Ahmad dan lain-lain menyatakan bahwa iman itu seperti baju
yang terkadang dipakai oleh seseorang dan terkadang pula dicopotnya. Menurut
Mushannif, makna dari ucapan diatas adalah: bila seseorang telah dapat
menyempurnakan sifat keimanan maka dia akan memakainya dan bila keimanan
tersebut berkurang sedikit maka dia akan mencopotnya. Hal ini semua
mengisyaratkan dapat terealisasinya iman yang benar-benar sempurna yang tidak
kurang sesuatupun dari kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengannya. Maksudnya,
bahwa diantara ciri-ciri sifat iman yang wajib adalah seseorang mencintai
saudaranya se-iman sama seperti dia mencintai dirinya sendiri. Begitu pula, dia
tidak suka bila sesuatu terjadi terhadapnya sama seperti dia tidak suka hal itu
akan terjadi terhadap dirinya. Bila perasaan semacam itu telah hilang dari
jiwanya, maka karenanya pula imannya akan berkurang. Terdapat hadits yang
mendukung makna tersebut, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah
dari Waatsilah bin al-Asqa' dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda: "Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai diri
sendiri maka engkau akan menjadi seorang Muslim".
2) Masalah orang yang menyombongkan diri dan
berbuat kerusakan seperti yang disinggung dalam ayat 83 surat al-Qashash diatas
Dalam ayat 83 surat al-Qashash diatas
disebutkan bahwa " Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang
tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..".
Ada yang mengatakan bahwa ayat tersebut
berlaku bila seseorang ingin menyombongkan diri atas orang lain bukan karena
hanya sekedar menonjolkan keindahan (berindah-indah) semata. 'Ikrimah dan para
Mufassir lainnya mengomentari ayat ini dengan mengatakan: (maksudnya)
kesombongan di muka bumi adalah takabbur/berlaku sombong dan mencari kemuliaan
serta kedudukan di sisi penguasa. Sedangkan maksud dari berbuat kerusakan dalam
ayat tersebut adalah melakukan perbuatan maksiat.
Dalam kaitannya dengan hal diatas, banyak
hadits yang menyatakan bahwa orang yang tidak suka orang lain melebihi
kecantikan/ketampanan dirinya tidak berdosa. Diantaranya, hadits yang
dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan al-Hakim dari Ibnu Mas'ud radhiallâhu 'anhu,
dia berkata: aku mengunjungi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu
disampingnya ada Malik bin Mararah ar-Rahawi, lantas aku memergokinya berkata
kepada Rasulullah: wahai Rasulullah! Engkau telah mellihat bahwa Allah telah
memberikan ketampanan kepadaku dan aku tidak suka seorang pun yang melebihiku
meskipun seukuran dua pasang sandal atau lebih, apakah hal ini termasuk
perbuatan melampaui batas? Beliau bersabda: "tidak, ini bukan termasuk
perbuatan melampaui batas, tetapi yang dikatakan melampau batas itu adalah
orang yang menolak dan mengingkari kebenaran. (perawi mengatakan: atau sabda
beliau-red) orang yang meremehkan kebenaran dan menyombongkan diri terhadap
manusia".
Dalam hadits ini Rasulullah menafikan
ketidaksukaan terhadap orang yang melebihi diri seseorang dalam keindahan rupa
termasuk kategori "baghy" (melampaui batas) atau "kibr"
(menyombongkan diri). Bahkan beliau menafsirkan keduanya dengan: "menolak
dan mengingkari kebenaran dan takabbur. Juga menolak untuk menerimanya secara
sombong bila bertentangan dengan hawa nafsunya". Oleh karenanya, sebagian
Salaf berkata: Tawadhu' adalah menerima kebenaran dari siapa saja yang
membawanya meskipun lebih muda/kecil; barangsiapa yang menerima kebenaran dari
siapa saja yang membawanya meskipun dia muda atau tua, menyukai atau
membencinya maka dia adalah Mutawaadhi' (orang yang memiliki sifat tawadhu')
sedangkan orang yang menolak untuk menerima kebenaran secara sombong maka dia
adalah Mutakabbir (seorang yang memiliki sifat sombong).
3) Masalah tahadduts dengan nikmat
Jika seseorang mengetahui bahwa Allah
menganugerahkan keistimewaan kepada dirinya yang tidak dimiliki oleh orang lain
lantas dia meceritakan hal itu kepada orang banyak demi kepentingan yang
bersifat keagamaan dan dia menceritakan hal itu dalam rangka tahadduts binni'am
(menceritakan nikmat) yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini juga dia melihat
bahwa dirinya belum maksimal dalam bersyukur maka hal ini adalah boleh.
Sikap semacam ini ditunjukkan oleh Ibnu
Mas'ud saat berkata: "sepanjang pengetahuanku, tidak ada orang yang lebih
mengetahui Kitabullah dari diriku". Meskipun begitu, hal ini tidak
menghalangi dirinya untuk selalu menginginkan agar orang-orang dapat
menyamainya dalam keistimewaan yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya tersebut.
Begitu juga, Ibnu 'Abbas pernah berkata: "sesungguhnya saat aku mengkaji
dan memahami ayat per-ayat dari Kitabullah, maka kala itu juga aku ingin agar
semua orang mengetahui apa yang aku ketahui". Demikian juga dengan Imam
asy-Syafi'i saat dia berkata: "aku ingin agar orang-orang yang mempelajari
ilmu ini (apa yang ia tulis dalam bukunya, dsb) tidak menisbatkannya
kepadaku".
Secara global, hendaklah seorang Mukmin
mencintai kaum Mukminin sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, begitu pula
dia tidak suka sesuatu yang jelek terjadi terhadap mereka sebagaimana dia tidak
suka hal itu terjadi pada dirinya. Jika dia melihat ada kekurangan dalam
masalah agama pada saudaranya se-Islam maka dia berupaya dengan serius untuk
sedapat mungkin memperbaikinya.
Dalam hal ini, sebagian Salaf menyatakan
bahwa orang-orang yang mencintai saudaranya karena Allah, mereka akan memandang
dengan Nur Allah, mereka amat prihatin terhadap kemaksiatan yang dilakukan oleh
orang-orang yang berbuat maksiat, mencerca perbuatan tersebut dan berupaya
merubahnya melalui nasihat, menyayangkan bila raga mereka dibakar oleh api
neraka.
Seorang Mukmin tidak dikatakan sebagai
sebenar-benar Mukmin hingga dia rela bila orang lain mendapatkan sesuatu yang
baik sebagaimana dia rela hal itu dia dapatkan juga, dan tidak lah dia
dikatakan sebagai Mukmin bila melihat kelebihan yang ada pada orang lain
melebihi dirinya kemudian dia bercita-cita ingin mendapatkan kelebihan itu pula
namun bila kelebihan tersebut dalam masalah yang bersifat keagamaan maka hal
itu adalah baik sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah
bercita-cita mendapatkan kedudukan yang dicapai melalui mati syahid.
Karenanya, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Tidaklah boleh mendengki kecuali terhadap dua spesifikasi:
seorang yang dikarunia oleh Allah dengan harta, lalu dia infaqkan harta
tersebut sepanjang siang dan malam; dan seorang yang dikaruniai oleh Allah
dengan Al-Qur'an lalu dia membacanya (dengan mentadabburinya) sepanjang malam
dan siang".
Dalam hadits yang lain dijelaskan juga bahwa
orang yang melihat saudaranya menafkahkan hartanya di jalan ketaatan, kemudian
dia berkata pada dirinya: "andaikan saya memiliki harta seperti itu
niscaya akan saya lakukan begini dan begitu (di jalan ketaatan)", maka
orang tersebut mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang memiliki harta
dan menafkahkan hartanya tersebut di jalan ketaatan. Akan tetapi hal ini tidak
berlaku dalam masalah duniawi dan tidak baik bercita-cita seperti itu (lihat
Q.,s. al-Qashash: 79-80).
Yang jelas, hendaknya seorang Mukmin bersedih
bila dia tidak dapat melakukan dan mendapatkan kelebihan dalam hal yang
bersifat keagamaan, oleh karena itu diperintahkan kepadanya dalam hal ini untuk
memandang kepada orang yang lebih dari dirinya dan berlomba-lomba untuk
mendapatkannya dengan seluruh kekuatan dan kemampuan yang ada padanya. Allah
berfirman: "…dan untuk yang demikian itu hendaknya orang
berlomba-lomba". (Q.,s. 83/al-Muthaffifiin: 26). Dia tidak boleh membenci
siapapun yang menyamainya dalam hal ini bahkan amat senang bila semua orang
berlomba-lomba di dalamnya dan mengajak orang kepada hal itu.
Inilah tingkatan yang sempurna dalam memberi
nashihat kepada kaum Muslimin. Al-Fudhail bin 'Ayadh berkata: "jika kamu
ingin agar orang lain sepertimu maka kamu dianggap belum melaksanakan nasihat
karena Tuhanmu, bagaimana tidak? Sebab (dengan begitu berarti) anda ingin agar
kondisi mereka di bawah anda". Disini al-Fudhail mengisyaratkan bahwa
memberi nasihat kepada mereka artinya dia ingin agar mereka melebihi dirinya.
Dan inilah kedudukan dan tingkat yang tinggi
dalam memberikan nasihat namun hal ini bukan merupakan suatu kewajiban.
Sebenarnya yang diperintahkan oleh syara' adalah keinginannya agar mereka sama
seperti dirinya, meskipun demikian bila seseorang melebihi dirinya dalam
masalah yang bersifat keagamaan maka dia mesti berusaha untuk mendapatkannya
dan bersedih atas ketidak maksimalannya di dalamnya. Hal semacam ini bukan
dikategorikan sebagai hasad (dengki) atas karunia yang diberikan oleh Allah
kepada mereka akan tetapi dalam rangka berlomba-lomba dengan mereka dalam
kebaikan.
Bila seorang Mukmin merasa bahwa dirinya
masih belum maksimal dalam menggapai kedudukan yang tinggi dalam masalah yang
bersifat keagamaan, maka dia akan mendapatkan dua keuntungan: Pertama , dia
akan berupaya untuk mendapatkan kedudukan tersebut dan ingin terus
meningkatkannya. Kedua, dia selalu melihat dirinya masih memiliki kekurangan;
hal ini berimplikasi kepada sikap ingin agar kaum Mukminin lebih baik dari
dirinya karena dia tidak rela kondisi mereka sama seperti dirinya tersebut
sebagaimana ketidakrelaannya dengan apa yang terjadi terhadap dirinya bahkan
dia akan berusaha memperbaikinya.
Muhammad bin Waasi' berkata kepada anaknya:
" mudah-mudahan Allah tidak memperbanyak di kalangan kaum Muslimin orang
seperti bapakmu ini". Dengan demikian, bilamana seseorang tidak rela
terhadap dirinya maka bagaimana mungkin dia menginginkan kaum Muslimin sama
kondisinya seperti dirinya dan memberikan nasihat kepada mereka? Bahkan
selayaknyalah dia menginginkan agar kondisi mereka lebih baik dari dirinya dan
ingin agar kondisi dirinya selalu lebih baik dari kondisi yang tengah
dialaminya.
Intisari Hadits
·
Hendaknya
seorang Mukmin mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri,
begitu pula dia tidak suka bila saudaranya mendapatkan sesuatu yang tidak baik
sebagaimana dia tidak suka hal itu terjadi pada dirinya.
·
Syara'
memerintahkan agar seorang Mukmin selalu menginginkan saudaranya mendapatkan
kelebihan yang sama seperti yang Allah anugerahkan kepadanya, namun adalah
merupakan tingkatan memberi nasihat yang tinggi bila dia ingin agar saudaranya
itu melebihi dirinya dalam hal tersebut.
·
Berlomba-lomba
dalam ketaatan dan kebaikan bukan termasuk melampaui batas dan hal yang
dilarang bahkan dianjurkan.
·
Menceritakan
nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita dalam rangka bersyukur adalah
dibolehkan. Wallaahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar