Rabu, 24 Oktober 2012

Hukum Shalat Jum'at Pada Hari Raya


Hukum Shalat Jum'at Pada Hari Raya

Oleh : Muhammad Sanif, S.HI.[1]
Ada beberapa riwayat yang terkait dengan pembahasan ini, di antaranya :
1.     Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى، وَعُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْوَصَّابِيُّ الْمَعْنَى، قَالَا: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّيِّ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mushaffaa dan ‘Umar bin Hafsh Al-Washaabiy secara makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Mughiirah Adl-Dlabbiy, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang ingin, maka tidak ada kewajiban Jum’at baginya. Karena sesungguhnya kita telah dikumpulkan” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1073].

2.     Hadits Zaid bin Arqaam radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ  إِيَاسِ  بْنِ  أَبِي  رَمْلَةَ الشَّامِيِّ، قَالَ: شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ، قَالَ: أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ: صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: " مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Israaiil : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Al-Mughiirah, dari Iyaas bin Abi Ramlah Asy-Syaamiy, ia berkata : Aku pernah menyaksikan Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan bertanya kepada Zaid bin Arqam. Ia (Mu’aawiyyah) berkata : “Apakah engkau pernah meyaksikan dua hari raya berkumpul dalam satu hari bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Zaid menjawab : “Ya”. Mu’aawiyyah berkata : “Apa yang beliau perbuat ?”. Zaid berkata : “Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat, kemudian memberikan keringanan (rukhshah) dalam shalat Jum’at. Beliau bersabda : ‘Barangsiapa yang ingin shalat, hendaklah ia shalat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1070].
3.     Atsar ‘Abdullah bin Az-Zubair radliyallaahu ‘anhu.
Ada dua jalan periwayatan darinya :
a.      Wahb bin Kaisaan rahimahullah.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قال: حَدَّثَنَا يَحْيَى، قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، قال: حَدَّثَنِي وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ، قال: " اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَأَخَّرَ الْخُرُوجَ حَتَّى تَعَالَى النَّهَارُ ثُمَّ خَرَجَ فَخَطَبَ فَأَطَالَ الْخُطْبَةَ، ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى وَلَمْ يُصَلِّ لِلنَّاسِ يَوْمَئِذٍ الْجُمُعَةَ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِابْنِ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Wahb bin Kaisaan, ia berkata : “Telah berkumpul dua hari raya di jaman Ibnuz-Zubair, lalu ia mengakhirkan keluar (untuk mengimami manusia) hingga hari meninggi. Lalu ia keluar dan berkhuthbah dengan memanjangkan khuthbahnya. Kemudian ia turun (dari mimbar) lalu melaksanakan shalat. Pada waktu itu, orang-orang tidak melaksanakan shalat Jum’at. Lalu hal itu disebutkan kepada Ibnu ‘Abbaas, dan ia berkata : “Ia telah melakukan sesuai dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1580].
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dibawakan dengan lafadh :
..... فَخَطَبَ وَأَطَالَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَلَمْ يُصَلِّ الْجُمُعَةَ فَعَابَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ ابْنِ عَبْدِ شَمْسٍ، فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: أَصَابَ ابْنُ الزُّبَيْرِ السُّنَّةَ، وَبَلَغَ ابْنَ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ: " رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِذَا اجْتَمَعَ عِيدَانِ صَنَعَ مِثْلَ هَذَا
“...... Lalu ia (Ibnuz-Zubair) berkhuthbah dan memanjangkan khuthbahnya itu. Kemudian shalat dua raka’at (‘Ied) tanpa mengerjakan shalat Jum’at (setelahnya). Orang-orang dari kalangan Bani Umayyah bin ‘Abdi Syams pun mencelanya. Sampailah hal itu kepada Ibnu ‘Abbaas, lalu ia berkata : ‘Ibnu Zubair telah melakukan sesuai dengan sunnah’. Dan sampailah hal itu juga kepada Ibnuz-Zubair, lalu ia berkata : “Aku telah melihat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ta’ala ‘anhu apabila berkumpul dua hari raya, melakukan semisal dengan ini” [selesai].
Ibnu Khuzaimah rahimahullah kemudian berkata :
قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ أَصَابَ ابْنُ الزُّبَيْرِ السُّنَّةَ، يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ سُنَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ سُنَّةَ أَبِي بَكْرٍ، أَوْ عُمَرَ، أَوْ عُثْمَانَ، أَوْ عَلِيٍّ، وَلا أَخَالُ أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ أَصَابَ السُّنَّةَ فِي تَقْدِيمِهِ الْخُطْبَةَ قَبْلَ صَلاةِ الْعِيدِ، لأَنَّ هَذَا الْفِعْلَ خِلافُ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَإِنَّمَا أَرَادَ تَرْكَهُ أَنْ يَجْمَعَ بِهِمْ بَعْدَمَا قَدْ صَلَّى بِهِمْ صَلاةَ الْعِيدِ فَقَطْ دُونَ تَقْدِيمِ الْخُطْبَةِ قَبْلَ صَلاةِ الْعِيد
“Perkataan Ibnu ‘Abbaas : ‘Ibnuz-Zubair telah melakukan sesuai sunnah’, dibawa pada maksud sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan boleh juga dibawa bahwa maksudnya adalah sunnah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, atau ‘Aliy. Namun tidak boleh disangkakan bahwa yang dimaksudkan dengannya (dari perkataan Ibnu ‘Abbaas) adalah sesuai dengan sunnah dalam mendahulukan khuthbah sebelum shalat ‘Ied, karena perbuatan ini menyelisihi sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan ‘Umar. Yang dimaksud dengan sunnah oleh Ibnu ‘Abbaas hanyalah perbuatan Ibnuz-Zubair meninggalkan mengumpulkan manusia setelah ia shalat bersama (mengimami) mereka untuk shalat ‘Ied saja, bukan dalam permasalahan mendahulukan khuthbah sebelum shalat ‘Ied” [Shahiih Ibni Khuzaimah 2/360].
Apa yang dikatakan Ibnu Khuzaimah rahimahullah adalah benar, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mendahulukan khuthbah sebelum shalat.
Perkataan Ibnuz-Zubair yang menyatakan ia pernah melihat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhum melakukan semisal yang ia lakukan, adalah terkait dengan pengguguran shalat Jum’at dengan berkumpulnya dua hari raya, bukan dalam mendahulukan khuthbah sebelum shalat. Hal itu dikarenakan pelaksanaan ‘Ied oleh ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu adalah mendahulukan shalat sebelum khuthbah sebagaimana riwayat :
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى ابْنِ أَزْهَرَ، قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ النَّاسَ، فَقَالَ: إِنَّ هَذَيْنِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَالْآخَرُ يَوْمٌ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ. قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَجَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ وَقَالَ: إِنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ، فَلْيَنْتَظِرْهَا وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، وَعُثْمَانُ مَحْصُورٌ فَجَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ
Dari Ibnu Syihaab, dari Abu ‘Ubaid maulaa Ibni Az-har, ia berkata : Aku pernah menghadiri ‘Ied bersama ‘Umar bin Al-Khaththaab, lalu ia shalat. Setelah itu ia berpaling, lalu berkhuthbah kepada manusia dan berkata : “Sesungguhnya dua hari ini telah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa padanya. Yang pertama adalah hari dimana kalian berbuka dari puasa kalian (‘Iedul-Fithri), dan yang lain adalah hari dimana kalian makan sembelihan kalian”. Abu ‘Ubaid berkata : “Kemudian aku menghadiri ‘Ied bersama ‘Utsmaan bin ‘Affaan. Ia pun datang, lalu melaksanakan shalat. Setelah selesai, ia berpaling lalu berkhuthbah. Ia berkata : “Sungguh Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya pada kalian. Barangsiapa dari kalangan orang-orang yang jauh tempat tinggalnya ingin menunggu shalat Jum’at, hendaknya ia menunggu. Dan barangsiapa ingin pulang, maka aku izinkan baginya”. Abu ‘Ubaid berkata : “Kemudian aku juga pernah menghadiri ‘Ied bersama ‘Aliy bin Abi Thaalib ketika ‘Utsmaan dikepung (oleh kawanan pemberontak). Ia (‘Aliy) datang, lalu shalat. Setelah selesai, ia berpaling lalu berkhuthbah” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ (tahqiiq : Al-Hilaaliy) 2/87-89 no. 471-473; shahih].
Kembali ke riwayat Ibnuz-Zubair sebelumnya......
‘Abdul-Hamiid bin Ja’far dalam periwayatan dari Wahb bin Kaisaan diselisihi oleh Hisyaam bin ‘Urwah :
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ، قَالَ: " اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمٍ، فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ فَصَلَّى الْعِيدَ بَعْدَمَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ، ثُمَّ دَخَلَ، فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ "، قَالَ هِشَامٌ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِنَافِعٍ، أَوْ ذُكِرَ لَهُ فَقَالَ: ذُكِرَ ذَلِكَ لِابْنِ عُمَرَ فَلَمْ يُنْكِرْهُ
Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari Wahb bin Kaisaan, ia berkata : “Telah berkumpul dua hari raya dalam satu hari. Lalu ‘Abdullah bin Az-Zubair melakukan shalat ‘Ied setelah hari beranjak siang. Kemudian ia masuk rumah, dan ia tidak lagi keluar hingga shalat ‘Ashar”. Hisyaam berkata : “Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Naafi – atau disebutkan hal itu kepadanya - , maka ia berkata : “Disebutkan hal itu kepada Ibnu ‘Umar, dan ia tidak mengingkarinya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/187 (4/243) no. 5891].
Sanad riwayat ini shahih. Hisyaam bin ‘Urwah lebih tsiqah daripada ‘Abdul-Hamiid, dan ia (Hisyaam) termasuk keluarga Ibnuz-Zubair, pemilik kisah.
Riwayat ini tidak menyebutkan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhu mendahulukan khuthbah sebelum shalat.
Yang nampak – wallaahu a’lam – riwayat inilah yang benar (mahfuudh). Dikuatkan lagi oleh riwayat :
b.      ‘Athaa’ bin Abi Rabbah rahimahullah.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْبَجَلِيُّ، حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ، عَنْ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ: صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا " وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ، فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Thariif Al-Bajaliy : Telah menceritakan kepada kami Asbaath, dari Al-A’masy, dari ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah, ia berkata : “Ibnuz-Zubair shalat bersama kami pada hari ‘Ied yang bertepatan dengan hari Jum’at di awal siang. Kemudian kami berangkat untuk shalat Jum’at, namun ternyata ia tidak keluar untuk mengimami kami. Lalu kami pun shalat sendiri. Waktu itu, Ibnu ‘Abbaas berada di Thaaif. Ketika pulang (ke Madiinah), kami menyebutkan hal itu kepadanya, lalu ia berkata : ‘Ia telah melakukan sesuai dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1071].
Riwayat ini menguatkan pernyataan sebelumnya bahwa perkataan Ibnu ‘Abbaas tentang perbuatan Ibnuz-Zubair sesuai dengan sunnah, adalah terkait pengguguran shalat Jum’at. Tidak disebutkan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa mendahulukan khuthbah sebelum shalat.
Sanad riwayat ini lemah dengan sebab ‘an’anah Al-A’masy, karena ia seorang mudallis. Akan tetapi riwayat ini shahih dengan jalur riwayat Wahb bin Kaisaan di atas, dan dikuatkan juga oleh riwayat :
ثنا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ: اجْتَمَعَ يَوْمُ فِطْرٍ وَيَوْمُ جُمُعَةٍ زَمَنَ ابْنِ زُبَيْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ: أَصَابَ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa’, ia berkata : “Telah berkumpul hari ‘Iedul-Fithr dan hari Jum’at di jaman Ibnu Zubair. Lalu ia shalat dua raka’at. Kemudian, disebutkanlah hal itu kepada Ibnu ‘Abbaas dan ia berkata : “Ia telah benar” [Diriwayatkan oleh Al-Faryaabiy dalam Ahkaamul-‘Iedain hal. 219 no. 153; shahih].
Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud no. 1072 dari jalan Yahyaa bin Khalaf, dari Abu ‘Aashim dengan lafadh :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: قَالَ عَطَاءٌ: اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ: عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Khalaf : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah berkata ‘Athaa’ : “Telah berkumpul hari Jum’at dan hari ‘Iedul-Fithri di jaman Ibnuz-Zubair. Ia (Ibnuz-Zubair) berkata : ‘Dua hari raya telah berkumpul dalam satu hari’. Lalu ia ia pun menjamaknya dengan melakukan shalat dua raka’at di waktu pagi. Ia tidak menambahnya hingga ia mengerjakan shalat ‘Ashar” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1072; shahih].
Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq 3/303 no. 5725 tanpa tambahan perkataan dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa seperti riwayat Abu Daawud di atas.
Diriwayatkan juga ‘Abdurrazzaaq 3/303-304 no. 5726 dari jalan Ibnu Juraij (dari Abuz-Zubair, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa) dengan sanad shahih dengan tambahan perkataan Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa.
Kesimpulan hukum yang dapat ditarik dari atsar Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhu :
a.      Meskipun sanadnya mauquuf, namun secara hukum ia adalah marfuu’ berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbaas bahwa perbuatan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhum sesuai dengan sunnah.
b.      Tidak benar Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa mendahulukan khuthbah sebelum shalat, karena ini berasal dari kekeliruan periwayatan ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far rahimahullah sebagaimana jalan-jalan riwayat yang telah disebutkan di atas. Selain itu, juga bertentangan dengan riwayat :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah; keduanya (Sufyaan dan Syu’bah) dari Qais bin Muslim, dari Thaariq bin Syihaab – dan ini adalah hadits Abu Bakr - , ia (Thaariq) berkata : Orang pertama yang berkhutbah pada hari raya (‘Ied) sebelum shalat didirikan adalah Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya : "Shalat (‘Ied) hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah". Marwan menjawab : "Sungguh, khutbah ini telah ditinggalkan". Kemudian Abu Sa’iid berkata : "Adapun orang ini telah menunaikan kewajibannya. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 49].
c.       Kewajiban shalat Jum’at gugur apabila dua hari raya (‘Ied dan Jum’at) bertemu. Seseorang diberikan rukhshah untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at apabila telah melaksanakan shalat ‘Ied pada hari itu.
d.      Boleh bagi seorang imam untuk meninggalkan shalat Jum’at jika sebelumnya telah dilaksanakan shalat ‘Ied. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan memberitahukan manusia satu sunnah bahwa kewajiban shalat Jum’at telah gugur dengan dilaksanakannya shalat ‘Ied.

Namun pada asalnya, tetap dianjurkan bagi imam untuk menegakkan shalat Jum’at untuk memfasilitasi orang-orang yang hendak menunaikannya, karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dulu pun tetap menegakkan shalat Jum’at ketika dua hari raya tersebut bertemu, sebagaimana riwayat :
4.     Hadits An-Nu’maan bin Basyiir radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَإسحاق، جميعا، عَنْ جَرِيرٍ، قَالَ يَحْيَى: أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ سَالِمٍ مَوْلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ، قَالَ: وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ ".
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Yahyaa, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Ishaaq, semuanya dari Jariir – Yahyaa berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Jariir - , dari Ibraahiim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, dari ayahnya, dari Habiib bin Saalim maulaa An-Nu’maan bin Basyiir, dari An-Nu’maan bin Basyiir, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika biasa membaca ketika shalat ‘Iedain dan shalat Jum’at surat sabbihisma rabbikal-a’laa (QS. Al-A’laa) dan hal ataaka hadiitsul-ghaasyiyyah (QS. Al-Ghaasyiyyah)”. An-Nu’maan berkata : “Apabila berkumpul ‘Ied dan Jum’at dalam satu hari, maka beliau membaca kedua surat tersebut dalam dua shalat (yaitu : shalat ‘Ied dan shalat Jum’at )” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 878].
Hadits ini menunjukkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap menegakkan shalat Jum’at ketika dua hari raya berkumpul dalam satu hari.
Penegakan shalat Jum’at oleh imam juga dilakukan oleh khalifah sepeningal beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana riwayat ‘Utsmaan yang dibawakan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ 2/87-89 no. 471-473 di atas. Juga riwayat dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu :

5.     Atsar ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمٍ، فَقَالَ: " مَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ، وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ "، قَالَ سُفْيَانُ: يَعْنِي يَجْلِسُ فِي بَيْتِهِ
Dari Ats-Tsauriy, dari ‘Abdullah (bin Syubrumah), dari Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy, dari ‘Aliy, ia berkata : “Telah berkumpul dua hari raya dalam satu hari”. ‘Aliy melanjutkan : “Barangsiapa yang hendak mengumpulkannya (dengan mengerjakan shalat ‘Ied dan shalat Jum’at), silakan melakukannya. Dan barangsiapa yang ingin duduk, silakan untuk duduk”. Sufyaan berkata : “Yaitu : duduk di rumahnya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 5731; shahih].
حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: " اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ  عَلِيٍّ  فَصَلَّى بِالنَّاسِ، ثُمَّ خَطَبَ عَلَى رَاحِلَتِهِ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الْعِيدَ، فَقَدْ قَضَى جُمُعَتَهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ "
Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari ‘Abdul-A’laa, dari Abu ‘Abdirrahmaan, ia berkata : “Telah berkumpul dua hari raya di jaman ‘Aliy, lalu ia shalat bersama orang-orang. Kemudian ia berkhuthbah di atas ontanya. Ia berkata : ‘Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian menyaksikan ‘Ied, sungguh ia telah melaksanakan shalat Jum’atnya, insya Allah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/187 (4/242) no. 5888].
Riwayat ini lemah dengan sebab ‘Abdul-A’laa bin ‘Aamir Al-Kuufiy. Akan tetapi ia dikuatkan oleh riwayat sebelumnya.
Tersisa satu pertanyaan :
Seandainya shalat ‘Ied telah menggugurkan shalat Jum’atnya, apakah ia masih harus mengerjakan shalat Dhuhur ?”.
Jawab :
Para ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa shalat ‘Ied otomatis juga menggugurkan shalat Dhuhurnya. Di antara ulama yang dikatakan berpendapat demikian adalah ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah rahimahullah berdasarkan riwayat yang telah disebutkan di atas bahwa Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhu tidak menambahkan shalat (setelah pelaksanaan ‘Ied) hingga shalat ‘Ashar. Alasan lain, kewajiban pokok pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at, dan shalat Dhuhur adalah penggantinya (bagi yang tidak melaksanakan shalat Jum’at). Jika yang pokok telah gugur, maka penggantinya pun otomatis gugur.
Ulama lain berpendapat bahwa kewajiban yang gugur hanyalah shalat Jum’atnya saja, dan ia tetap harus mengerjakan shalat Dhuhur (jika tidak mengerjakan shalat Jum’at). Pendapat inilah yang raajih. Dalil mereka dan sekaligus jawaban terhadap pendapat pertama adalah sebagai berikut :
Pertama : Firman Allah ta’ala :
أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) shubuh. Sesungguhnya salat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)” [QS. Al-Israa’ : 78].
Ayat di atas telah menjelaskan waktu-waktu shalat secara global. Firman Allah ta’ala {لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ} ‘dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam’; mengandung empat macam waktu shalat, yaitu Dhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya’. Dan kemudian ditambah satu lagi dengan kelanjutannya : {وَقُرْآنَ الْفَجْرِ} ‘dan Qur’aanal-Fajr’ – yaitu waktu Fajar/Shubuh.
Oleh karena itu, yang menjadi asal/pokok kewajiban adalah shalat Dhuhur. Barangsiapa yang luput mengerjakan shalat Jum’at, ia tetap wajib mengerjakan shalat Dhuhur. Shalat ‘Ied sendiri hukumnya hanyalah sunnah muakkadah saja menurut pendapat yang shahih. Jika demikian, bagaimana shalat sunnah dapat menggugurkan shalat wajib (shalat Jum’at dan Dhuhur sekaligus) ?.
Kedua : Dalil-dalil yang berbicara tentang berkumpulnya dua hari raya di atas hanyalah menyatakan penguguran kewajiban menghadiri shalat Jum’at saja. Tidak ada satu pun yang menyatakan adanya pengguguran kewajiban shalat Dhuhur.
Ketiga  : Tidak ada riwayat shahih dan sharih dari salaf yang menyatakan adanya pengguguran shalat Dhuhur dan shalat Jum’at sekaligus ketika telah dilakukan shalat ‘Ied. Bahkan ‘Athaa’ sendiri mengerjakan shalat Dhuhur :
عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ: صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا " وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ، فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ
Dari ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah, ia berkata : “Ibnuz-Zubair shalat bersama kami pada hari ‘Ied yang bertepatan dengan hari Jum’at di awal siang. Kemudian kami berangkat untuk shalat Jum’at, namun ternyata ia tidak keluar untuk mengimami kami. Lalu kami pun shalat sendiri. Waktu itu, Ibnu ‘Abbaas berada di Thaaif. Ketika pulang (ke Madiinah), kami menyebutkan hal itu kepadanya, lalu ia berkata : ‘Ia telah melakukan sesuai dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1071].
Perkataan ‘kami pun shalat sendiri’ menunjukkan ia tetap mengerjakan shalat Dhuhur, karena pada waktu itu, shalat Jum’at tidak didirikan.
Keempat : Pernyataan bahwa Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa tidak menambahkan shalat hingga shalat ‘Ashar didasarkan fakta bahwa ‘Athaa’ tidak melihat Ibnuz-Zubair keluar rumah mengimami manusia, sebagaimana terdapat dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah 2/187 (4/243) no. 5891 di atas. Namun, menyimpulkan fakta ini sebagai dalil Ibnuz-Zubair tidak mengerjakan shalat Dhuhur terlalu lemah, karena bukan mustahil Ibnuz-Zubair mengerjakan shalat Dhuhur di rumah sehingga tidak diketahui 'Athaa' rahimahullah.

Pendapat di kalangan ulama madzhab empat.
Pertama, pendapat madzhab al-Syafi’i yang mengatakan, bahwa ketika hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka penduduk kampung yang mendengar panggilan shalat id boleh pulang dan meninggalkan shalat Jum’at. Kebolehan meninggalkan shalat Jum’at tersebut berlaku, ketika mereka mengikuti shalat hari raya, dan seandainya mereka pulang ke rumah mereka, maka mereka tidak akan dapat mengikuti shalat Jum’at. Kebolehan meninggalkan shalat Jum’at bagi mereka semata-mata karena rukhshah, keringanan dan dispensasi. Oleh karena itu, ketika penduduk desa itu tidak menghadiri shalat id, maka mereka jelas wajib menghadiri shalat Jum’at. Disamping itu, kebolehan penduduk desa itu meninggalkan shalat Jum’at, disyaratkan pulang dari shalat id itu sebelum masuk waktunya Jum’at, yaitu waktu zhuhur. Demikian pendapat golongan Syafi’iyah.
Kasus di Madinah di awal Islam itu bisa dijadikan alasan, tetapi apakah kita di Indonesia benar-benar mengalami nasib seperti itu?
Hal seperti itu hanya di wilayah yg padanya hanya ada satu masjid, sebagaimana masa lalu muslimin berdatangan dari wilayah perkampungan dan wilayah jauh, maka mereka melakukan shalat ied saja, dan jika harus kembali lagi untuk jumat maka akan sangat melelahkan, maka diudzurkan jumat dihari itu.
Beda dimasa kini yang masjid sudah ada dimana mana, maka tak ada udzur untuk meninggalkan jumat. Bagi kaum Muslimin di Indonesia yang mayoritas NU, hampir di setiap dusun ada masjid, rata-rata kurang dari 1 km dan tidak melewati padang pasir.
Mengenai udzur tsb adalah hadits riwayat Musnad Ahmad dan Ibn Khuzaimah bahwa Rasul saw menjelaskan jika hal ini terjadi maka Rasul saw memberi izin rukhsah/kemudahan untuk tidak melakukan jumat, dan barangsiapa yg ingin melakukan keduanya maka lakukanlah keduanya” (Shahih Ibn Khuzaimah)
Dan diperjelas pada riwayat shahih bahwa Nu’man bi Basyir ra berkata : “Rasul saw membaca surat sabbihisma rabbikal a’la dan Hal ataaka pada shalat jumat dan Ied, dan jika bersatu Ied dan Jumat pada satu hari maka membaca dua surat itu pada keduanya” (Shahih Muslim Bab Maa yaqra’ filjum’ah, Shahih Ibn Khuzaimah, Shahih Ibn Hibban, Musnad Ahmad, dan banyak lagi).
Kedua, pendapat madzhab Hanafi dan Maliki. Menurut kedua madzhab ini, apabila hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka orang yang menghadiri shalat id tetap tidak dibolehkan meninggalkan shalat Jum’at. Al-Imam al-Dusuqi berkata, baik mereka yang menghadiri shalat id di kampungnya atau di luar daerahnya.
Ketiga, pendapat madzhab Hanabilah. Menurut madzhab Hanbali, apabila hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka orang yang menghadiri shalat id dan melakukan shalat zhuhur, boleh meninggalkan shalat Jum’at, dalam artian shalat Jum’at gugur bagi orang tersebut. Menurut golongan Hanabilah, gugurnya shalat Jum’at itu hanyalah gugurnya menghadiri Jum’at, bukan gugurnya kewajiban Jum’at. Sehingga posisi orangyang menghadiri shalat id itu sama dengan orang-orang yang punya uzur seperti orang sakit, atau punya kesibukan yang membolehkan meninggalkan shalat Jum’at. Namun kewajiban shalat Jum’at tidak gugur bagi orang tersebut, dalam artian, orang itu dapat menjadi sebab sahnya shalat Jum’at dan sah menjadi imam Jum’at. Akan tetapi menurut golongan Hanabilah ini, menghadiri shalat Jum’at jelas lebih utama. Walahu a’lam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 27, hal. 208).

Kesimpulan:
1.    Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum'at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.
2.    Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat 'ied tidak menghadiri shalat Jum'at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.
3.    Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.
4.    Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.
Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).
5.    Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.  Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.




[1] Kepala KUA Kec. Pegagan Hilir Kemenag Kab. Dairi.