Hukum Shalat Jum'at Pada Hari Raya
Oleh : Muhammad
Sanif, S.HI.[1]
Ada beberapa riwayat
yang terkait dengan pembahasan ini, di antaranya :
1.
Hadits Abu Hurairah radliyallaahu
‘anhu.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى، وَعُمَرُ بْنُ
حَفْصٍ الْوَصَّابِيُّ الْمَعْنَى، قَالَا: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ، عَنْ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّيِّ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ،
عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا
عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
"
Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Al-Mushaffaa dan ‘Umar bin Hafsh Al-Washaabiy secara
makna, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah : Telah
menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Mughiirah Adl-Dlabbiy, dari
‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Pada hari ini telah berkumpul dua
hari raya pada kalian. Maka barangsiapa yang ingin, maka tidak ada kewajiban
Jum’at baginya. Karena sesungguhnya kita telah dikumpulkan” [Diriwayatkan
oleh Abu Dawud no. 1073].
2.
Hadits Zaid bin Arqaam radliyallaahu
‘anhu.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا
إِسْرَائِيلُ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ إِيَاسِ
بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ، قَالَ: شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ
أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ، قَالَ: أَشَهِدْتَ مَعَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي
يَوْمٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَكَيْفَ صَنَعَ؟ قَالَ: صَلَّى الْعِيدَ، ثُمَّ
رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: " مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
"
Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Israaiil :
Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Al-Mughiirah, dari Iyaas bin Abi
Ramlah Asy-Syaamiy, ia berkata : Aku pernah menyaksikan Mu’aawiyyah bin Abi
Sufyaan bertanya kepada Zaid bin Arqam. Ia (Mu’aawiyyah) berkata : “Apakah
engkau pernah meyaksikan dua hari raya berkumpul dalam satu hari bersama
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Zaid menjawab : “Ya”.
Mu’aawiyyah berkata : “Apa yang beliau perbuat ?”. Zaid berkata : “Beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam shalat, kemudian memberikan keringanan (rukhshah)
dalam shalat Jum’at. Beliau bersabda : ‘Barangsiapa yang ingin shalat,
hendaklah ia shalat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1070].
3.
Atsar ‘Abdullah bin
Az-Zubair radliyallaahu ‘anhu.
Ada dua jalan periwayatan darinya :
a.
Wahb bin Kaisaan rahimahullah.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قال: حَدَّثَنَا
يَحْيَى، قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ، قال: حَدَّثَنِي
وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ، قال: " اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى عَهْدِ ابْنِ
الزُّبَيْرِ فَأَخَّرَ الْخُرُوجَ حَتَّى تَعَالَى النَّهَارُ ثُمَّ خَرَجَ
فَخَطَبَ فَأَطَالَ الْخُطْبَةَ، ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى وَلَمْ يُصَلِّ لِلنَّاسِ
يَوْمَئِذٍ الْجُمُعَةَ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لِابْنِ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: أَصَابَ
السُّنَّةَ "
Telah mengkhabarkan
kepada kami Muhammad bin Basysyaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami
Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far,
ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Wahb bin Kaisaan, ia berkata : “Telah
berkumpul dua hari raya di jaman Ibnuz-Zubair, lalu ia mengakhirkan keluar
(untuk mengimami manusia) hingga hari meninggi. Lalu ia keluar dan berkhuthbah
dengan memanjangkan khuthbahnya. Kemudian ia turun (dari mimbar) lalu
melaksanakan shalat. Pada waktu itu, orang-orang tidak melaksanakan shalat
Jum’at. Lalu hal itu disebutkan kepada Ibnu ‘Abbaas, dan ia berkata : “Ia telah
melakukan sesuai dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1580].
Dalam riwayat Ibnu
Khuzaimah dibawakan dengan lafadh :
..... فَخَطَبَ وَأَطَالَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَلَمْ
يُصَلِّ الْجُمُعَةَ فَعَابَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ بَنِي أُمَيَّةَ ابْنِ عَبْدِ
شَمْسٍ، فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ، فَقَالَ: أَصَابَ ابْنُ الزُّبَيْرِ
السُّنَّةَ، وَبَلَغَ ابْنَ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ: " رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ
الْخَطَّابِ رَضِي اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِذَا اجْتَمَعَ عِيدَانِ صَنَعَ
مِثْلَ هَذَا
“...... Lalu ia
(Ibnuz-Zubair) berkhuthbah dan memanjangkan khuthbahnya itu. Kemudian shalat
dua raka’at (‘Ied) tanpa mengerjakan shalat Jum’at (setelahnya). Orang-orang
dari kalangan Bani Umayyah bin ‘Abdi Syams pun mencelanya. Sampailah hal itu
kepada Ibnu ‘Abbaas, lalu ia berkata : ‘Ibnu Zubair telah melakukan sesuai
dengan sunnah’. Dan sampailah hal itu juga kepada Ibnuz-Zubair, lalu ia berkata
: “Aku telah melihat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ta’ala ‘anhu
apabila berkumpul dua hari raya, melakukan semisal dengan ini” [selesai].
Ibnu Khuzaimah rahimahullah
kemudian berkata :
قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ أَصَابَ ابْنُ الزُّبَيْرِ
السُّنَّةَ، يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ سُنَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ أَرَادَ سُنَّةَ أَبِي بَكْرٍ، أَوْ
عُمَرَ، أَوْ عُثْمَانَ، أَوْ عَلِيٍّ، وَلا أَخَالُ أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ أَصَابَ
السُّنَّةَ فِي تَقْدِيمِهِ الْخُطْبَةَ قَبْلَ صَلاةِ الْعِيدِ، لأَنَّ هَذَا
الْفِعْلَ خِلافُ سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي
بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَإِنَّمَا أَرَادَ تَرْكَهُ أَنْ يَجْمَعَ بِهِمْ بَعْدَمَا
قَدْ صَلَّى بِهِمْ صَلاةَ الْعِيدِ فَقَطْ دُونَ تَقْدِيمِ الْخُطْبَةِ قَبْلَ
صَلاةِ الْعِيد
“Perkataan Ibnu ‘Abbaas
: ‘Ibnuz-Zubair telah melakukan sesuai sunnah’, dibawa pada maksud
sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan boleh juga dibawa bahwa
maksudnya adalah sunnah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, atau ‘Aliy. Namun tidak
boleh disangkakan bahwa yang dimaksudkan dengannya (dari perkataan Ibnu
‘Abbaas) adalah sesuai dengan sunnah dalam mendahulukan khuthbah sebelum shalat
‘Ied, karena perbuatan ini menyelisihi sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, Abu Bakr, dan ‘Umar. Yang dimaksud dengan sunnah oleh Ibnu ‘Abbaas
hanyalah perbuatan Ibnuz-Zubair meninggalkan mengumpulkan manusia setelah ia
shalat bersama (mengimami) mereka untuk shalat ‘Ied saja, bukan dalam
permasalahan mendahulukan khuthbah sebelum shalat ‘Ied” [Shahiih Ibni
Khuzaimah 2/360].
Apa yang dikatakan Ibnu
Khuzaimah rahimahullah adalah benar, karena Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam tidak pernah mendahulukan khuthbah sebelum shalat.
Perkataan Ibnuz-Zubair
yang menyatakan ia pernah melihat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu
‘anhum melakukan semisal yang ia lakukan, adalah terkait dengan pengguguran
shalat Jum’at dengan berkumpulnya dua hari raya, bukan dalam mendahulukan
khuthbah sebelum shalat. Hal itu dikarenakan pelaksanaan ‘Ied oleh ‘Umar bin
Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu adalah mendahulukan shalat sebelum
khuthbah sebagaimana riwayat :
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى ابْنِ
أَزْهَرَ، قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَصَلَّى، ثُمَّ
انْصَرَفَ فَخَطَبَ النَّاسَ، فَقَالَ: إِنَّ هَذَيْنِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ
مِنْ صِيَامِكُمْ، وَالْآخَرُ يَوْمٌ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ. قَالَ
أَبُو عُبَيْدٍ: ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَجَاءَ
فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ وَقَالَ: إِنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِي
يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ
يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ، فَلْيَنْتَظِرْهَا وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ
أَذِنْتُ لَهُ، قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ: ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عَلِيِّ بْنِ
أَبِي طَالِبٍ، وَعُثْمَانُ مَحْصُورٌ فَجَاءَ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَخَطَبَ
Dari Ibnu Syihaab, dari
Abu ‘Ubaid maulaa Ibni Az-har, ia berkata : Aku pernah menghadiri ‘Ied bersama
‘Umar bin Al-Khaththaab, lalu ia shalat. Setelah itu ia berpaling, lalu
berkhuthbah kepada manusia dan berkata : “Sesungguhnya dua hari ini telah
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa padanya.
Yang pertama adalah hari dimana kalian berbuka dari puasa kalian (‘Iedul-Fithri),
dan yang lain adalah hari dimana kalian makan sembelihan kalian”. Abu ‘Ubaid
berkata : “Kemudian aku menghadiri ‘Ied bersama ‘Utsmaan bin ‘Affaan. Ia pun
datang, lalu melaksanakan shalat. Setelah selesai, ia berpaling lalu
berkhuthbah. Ia berkata : “Sungguh Pada hari ini telah berkumpul dua hari raya
pada kalian. Barangsiapa dari kalangan orang-orang yang jauh tempat tinggalnya
ingin menunggu shalat Jum’at, hendaknya ia menunggu. Dan barangsiapa ingin
pulang, maka aku izinkan baginya”. Abu ‘Ubaid berkata : “Kemudian aku juga
pernah menghadiri ‘Ied bersama ‘Aliy bin Abi Thaalib ketika ‘Utsmaan dikepung
(oleh kawanan pemberontak). Ia (‘Aliy) datang, lalu shalat. Setelah selesai, ia
berpaling lalu berkhuthbah” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’
(tahqiiq : Al-Hilaaliy) 2/87-89 no. 471-473; shahih].
Kembali ke riwayat
Ibnuz-Zubair sebelumnya......
‘Abdul-Hamiid bin
Ja’far dalam periwayatan dari Wahb bin Kaisaan diselisihi oleh
Hisyaam bin ‘Urwah :
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ
عُرْوَةَ، عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ، قَالَ: " اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي
يَوْمٍ، فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ فَصَلَّى الْعِيدَ بَعْدَمَا
ارْتَفَعَ النَّهَارُ، ثُمَّ دَخَلَ، فَلَمْ يَخْرُجْ حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ
"، قَالَ هِشَامٌ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِنَافِعٍ، أَوْ ذُكِرَ لَهُ فَقَالَ:
ذُكِرَ ذَلِكَ لِابْنِ عُمَرَ فَلَمْ يُنْكِرْهُ
Telah menceritakan
kepada kami Abu Usaamah, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari Wahb bin Kaisaan, ia
berkata : “Telah berkumpul dua hari raya dalam satu hari. Lalu ‘Abdullah bin
Az-Zubair melakukan shalat ‘Ied setelah hari beranjak siang. Kemudian ia masuk
rumah, dan ia tidak lagi keluar hingga shalat ‘Ashar”. Hisyaam berkata : “Lalu
aku menyebutkan hal itu kepada Naafi – atau disebutkan hal itu kepadanya - ,
maka ia berkata : “Disebutkan hal itu kepada Ibnu ‘Umar, dan ia tidak
mengingkarinya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/187 (4/243) no. 5891].
Sanad riwayat ini
shahih. Hisyaam bin ‘Urwah lebih tsiqah daripada ‘Abdul-Hamiid, dan ia
(Hisyaam) termasuk keluarga Ibnuz-Zubair, pemilik kisah.
Riwayat ini tidak
menyebutkan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhu mendahulukan khuthbah
sebelum shalat.
Yang nampak – wallaahu
a’lam – riwayat inilah yang benar (mahfuudh). Dikuatkan lagi oleh
riwayat :
b.
‘Athaa’ bin Abi Rabbah rahimahullah.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْبَجَلِيُّ،
حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ، عَنْ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ:
صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ
النَّهَارِ، ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا
فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا " وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ، فَلَمَّا
قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ
Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Thariif Al-Bajaliy : Telah menceritakan kepada kami
Asbaath, dari Al-A’masy, dari ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah, ia berkata :
“Ibnuz-Zubair shalat bersama kami pada hari ‘Ied yang bertepatan dengan hari
Jum’at di awal siang. Kemudian kami berangkat untuk shalat Jum’at, namun
ternyata ia tidak keluar untuk mengimami kami. Lalu kami pun shalat sendiri.
Waktu itu, Ibnu ‘Abbaas berada di Thaaif. Ketika pulang (ke Madiinah), kami
menyebutkan hal itu kepadanya, lalu ia berkata : ‘Ia telah melakukan sesuai
dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1071].
Riwayat ini menguatkan
pernyataan sebelumnya bahwa perkataan Ibnu ‘Abbaas tentang perbuatan
Ibnuz-Zubair sesuai dengan sunnah, adalah terkait pengguguran shalat Jum’at.
Tidak disebutkan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa mendahulukan
khuthbah sebelum shalat.
Sanad riwayat ini lemah
dengan sebab ‘an’anah Al-A’masy, karena ia seorang mudallis. Akan
tetapi riwayat ini shahih dengan jalur riwayat Wahb bin Kaisaan di atas, dan
dikuatkan juga oleh riwayat :
ثنا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ
ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ: اجْتَمَعَ يَوْمُ فِطْرٍ وَيَوْمُ جُمُعَةٍ
زَمَنَ ابْنِ زُبَيْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، فَذُكِرَ ذَلِكَ لابْنِ عَبَّاسٍ
فَقَالَ: أَصَابَ "
Telah menceritakan
kepada kami ‘Amru bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, dari
Ibnu Juraij, dari ‘Athaa’, ia berkata : “Telah berkumpul hari ‘Iedul-Fithr dan
hari Jum’at di jaman Ibnu Zubair. Lalu ia shalat dua raka’at. Kemudian,
disebutkanlah hal itu kepada Ibnu ‘Abbaas dan ia berkata : “Ia telah benar”
[Diriwayatkan oleh Al-Faryaabiy dalam Ahkaamul-‘Iedain hal. 219 no. 153;
shahih].
Diriwayatkan juga oleh
Abu Daawud no. 1072 dari jalan Yahyaa bin Khalaf, dari Abu ‘Aashim dengan
lafadh :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ، حَدَّثَنَا أَبُو
عَاصِمٍ، عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: قَالَ عَطَاءٌ: اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ
وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ: عِيدَانِ اجْتَمَعَا
فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً
لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ
Telah menceritakan
kepada kami Yahyaa bin Khalaf : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim,
dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah berkata ‘Athaa’ : “Telah berkumpul hari
Jum’at dan hari ‘Iedul-Fithri di jaman Ibnuz-Zubair. Ia (Ibnuz-Zubair) berkata
: ‘Dua hari raya telah berkumpul dalam satu hari’. Lalu ia ia pun menjamaknya
dengan melakukan shalat dua raka’at di waktu pagi. Ia tidak menambahnya hingga
ia mengerjakan shalat ‘Ashar” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1072; shahih].
Diriwayatkan juga oleh
‘Abdurrazzaaq 3/303 no. 5725 tanpa tambahan perkataan dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu
‘anhumaa seperti riwayat Abu Daawud di atas.
Diriwayatkan juga
‘Abdurrazzaaq 3/303-304 no. 5726 dari jalan Ibnu Juraij (dari Abuz-Zubair, dari
Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa) dengan sanad shahih dengan tambahan
perkataan Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa.
Kesimpulan hukum yang
dapat ditarik dari atsar Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhu :
a. Meskipun sanadnya mauquuf,
namun secara hukum ia adalah marfuu’ berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbaas
bahwa perbuatan Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhum sesuai dengan sunnah.
b. Tidak benar
Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa mendahulukan khuthbah sebelum
shalat, karena ini berasal dari kekeliruan periwayatan ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far
rahimahullah sebagaimana jalan-jalan riwayat yang telah disebutkan di
atas. Selain itu, juga bertentangan dengan riwayat :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ
مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ
مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ
إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا
هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ
مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ
لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Telah menceritakan
kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Wakii’,
dari Sufyaan. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa :
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada
kami Syu’bah; keduanya (Sufyaan dan Syu’bah) dari Qais bin Muslim, dari Thaariq
bin Syihaab – dan ini adalah hadits Abu Bakr - , ia (Thaariq) berkata : Orang
pertama yang berkhutbah pada hari raya (‘Ied) sebelum shalat didirikan adalah
Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya : "Shalat
(‘Ied) hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah". Marwan menjawab :
"Sungguh, khutbah ini telah ditinggalkan". Kemudian Abu Sa’iid
berkata : "Adapun orang ini telah menunaikan kewajibannya. Aku pernah
mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda
: ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia cegah
dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu
juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman"
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 49].
c. Kewajiban shalat Jum’at
gugur apabila dua hari raya (‘Ied dan Jum’at) bertemu. Seseorang diberikan rukhshah
untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at apabila telah melaksanakan shalat ‘Ied
pada hari itu.
d. Boleh bagi seorang imam
untuk meninggalkan shalat Jum’at jika sebelumnya telah dilaksanakan shalat
‘Ied. Hal itu dilakukan dengan pertimbangan memberitahukan manusia satu sunnah
bahwa kewajiban shalat Jum’at telah gugur dengan dilaksanakannya shalat ‘Ied.
Namun pada asalnya, tetap dianjurkan bagi imam untuk menegakkan shalat
Jum’at untuk memfasilitasi orang-orang yang hendak menunaikannya, karena
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dulu pun tetap menegakkan
shalat Jum’at ketika dua hari raya tersebut bertemu, sebagaimana riwayat :
4.
Hadits An-Nu’maan bin
Basyiir radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ
أَبِي شَيْبَةَ، وَإسحاق، جميعا، عَنْ جَرِيرٍ، قَالَ يَحْيَى: أَخْبَرَنَا
جَرِيرٌ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ أَبِيهِ،
عَنْ حَبِيبِ بْنِ سَالِمٍ مَوْلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، عَنْ النُّعْمَانِ
بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ
الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ، قَالَ: وَإِذَا اجْتَمَعَ
الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
".
Telah menceritakan
kepada kami Yahyaa bin Yahyaa, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Ishaaq, semuanya
dari Jariir – Yahyaa berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Jariir - , dari
Ibraahiim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, dari ayahnya, dari Habiib bin Saalim
maulaa An-Nu’maan bin Basyiir, dari An-Nu’maan bin Basyiir, ia berkata :
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika biasa membaca ketika
shalat ‘Iedain dan shalat Jum’at surat sabbihisma rabbikal-a’laa (QS.
Al-A’laa) dan hal ataaka hadiitsul-ghaasyiyyah (QS. Al-Ghaasyiyyah)”.
An-Nu’maan berkata : “Apabila berkumpul ‘Ied dan Jum’at dalam satu hari, maka beliau
membaca kedua surat tersebut dalam dua shalat (yaitu : shalat ‘Ied dan shalat
Jum’at ’)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 878].
Hadits ini menunjukkan
bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap menegakkan shalat
Jum’at ketika dua hari raya berkumpul dalam satu hari.
Penegakan shalat Jum’at
oleh imam juga dilakukan oleh khalifah sepeningal beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam sebagaimana riwayat ‘Utsmaan yang dibawakan oleh Maalik
dalam Al-Muwaththa’ 2/87-89 no. 471-473 di atas. Juga riwayat dari ‘Aliy
radliyallaahu ‘anhu :
5.
Atsar ‘Aliy bin Abi
Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي
عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي
يَوْمٍ، فَقَالَ: " مَنْ أَرَادَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ، وَمَنْ
أَرَادَ أَنْ يَجْلِسَ فَلْيَجْلِسْ "، قَالَ سُفْيَانُ: يَعْنِي يَجْلِسُ
فِي بَيْتِهِ
Dari Ats-Tsauriy, dari
‘Abdullah (bin Syubrumah), dari Abu ‘Abdirrahmaan As-Sulamiy, dari ‘Aliy, ia
berkata : “Telah berkumpul dua hari raya dalam satu hari”. ‘Aliy melanjutkan :
“Barangsiapa yang hendak mengumpulkannya (dengan mengerjakan shalat ‘Ied dan
shalat Jum’at), silakan melakukannya. Dan barangsiapa yang ingin duduk, silakan
untuk duduk”. Sufyaan berkata : “Yaitu : duduk di rumahnya” [Diriwayatkan oleh
‘Abdurrazzaaq no. 5731; shahih].
حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى،
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: " اجْتَمَعَ عِيدَانِ عَلَى
عَهْدِ عَلِيٍّ فَصَلَّى بِالنَّاسِ، ثُمَّ خَطَبَ عَلَى رَاحِلَتِهِ
قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الْعِيدَ، فَقَدْ قَضَى
جُمُعَتَهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ "
Telah menceritakan
kepada kami Abul-Ahwash, dari ‘Abdul-A’laa, dari Abu ‘Abdirrahmaan, ia berkata
: “Telah berkumpul dua hari raya di jaman ‘Aliy, lalu ia shalat bersama
orang-orang. Kemudian ia berkhuthbah di atas ontanya. Ia berkata : ‘Wahai
sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian menyaksikan ‘Ied, sungguh ia
telah melaksanakan shalat Jum’atnya, insya Allah” [Diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Syaibah 2/187 (4/242) no. 5888].
Riwayat ini lemah
dengan sebab ‘Abdul-A’laa bin ‘Aamir Al-Kuufiy. Akan tetapi ia dikuatkan oleh
riwayat sebelumnya.
Tersisa satu pertanyaan
:
“Seandainya shalat
‘Ied telah menggugurkan shalat Jum’atnya, apakah ia masih harus mengerjakan
shalat Dhuhur ?”.
Jawab :
Para ulama berbeda
pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa shalat ‘Ied otomatis juga
menggugurkan shalat Dhuhurnya. Di antara ulama yang dikatakan berpendapat
demikian adalah ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah rahimahullah berdasarkan riwayat
yang telah disebutkan di atas bahwa Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhu tidak
menambahkan shalat (setelah pelaksanaan ‘Ied) hingga shalat ‘Ashar. Alasan
lain, kewajiban pokok pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at, dan shalat Dhuhur
adalah penggantinya (bagi yang tidak melaksanakan shalat Jum’at). Jika yang
pokok telah gugur, maka penggantinya pun otomatis gugur.
Ulama lain berpendapat
bahwa kewajiban yang gugur hanyalah shalat Jum’atnya saja, dan ia tetap harus
mengerjakan shalat Dhuhur (jika tidak mengerjakan shalat Jum’at). Pendapat
inilah yang raajih. Dalil mereka dan sekaligus jawaban
terhadap pendapat pertama adalah sebagai berikut :
Pertama : Firman Allah ta’ala
:
أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ
اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Dirikanlah shalat
dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula
shalat) shubuh. Sesungguhnya salat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)” [QS.
Al-Israa’ : 78].
Ayat di atas telah
menjelaskan waktu-waktu shalat secara global. Firman Allah ta’ala {لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ} ‘dari sesudah matahari
tergelincir sampai gelap malam’; mengandung empat macam waktu
shalat, yaitu Dhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya’. Dan kemudian ditambah satu
lagi dengan kelanjutannya : {وَقُرْآنَ الْفَجْرِ} ‘dan Qur’aanal-Fajr’ –
yaitu waktu Fajar/Shubuh.
Oleh karena itu, yang
menjadi asal/pokok kewajiban adalah shalat Dhuhur. Barangsiapa yang luput
mengerjakan shalat Jum’at, ia tetap wajib mengerjakan shalat Dhuhur. Shalat
‘Ied sendiri hukumnya hanyalah sunnah muakkadah saja menurut pendapat yang
shahih. Jika demikian, bagaimana shalat sunnah dapat menggugurkan shalat wajib
(shalat Jum’at dan Dhuhur sekaligus) ?.
Kedua : Dalil-dalil yang
berbicara tentang berkumpulnya dua hari raya di atas hanyalah menyatakan
penguguran kewajiban menghadiri shalat Jum’at saja. Tidak ada satu pun yang
menyatakan adanya pengguguran kewajiban shalat Dhuhur.
Ketiga : Tidak ada
riwayat shahih dan sharih dari salaf yang menyatakan adanya pengguguran shalat
Dhuhur dan shalat Jum’at sekaligus ketika telah dilakukan shalat ‘Ied. Bahkan
‘Athaa’ sendiri mengerjakan shalat Dhuhur :
عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ: صَلَّى بِنَا
ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ
رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا
" وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ، فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ
لَهُ، فَقَالَ: أَصَابَ السُّنَّةَ
Dari ‘Athaa’ bin Abi
Rabbaah, ia berkata : “Ibnuz-Zubair shalat bersama kami pada hari ‘Ied yang
bertepatan dengan hari Jum’at di awal siang. Kemudian kami berangkat untuk
shalat Jum’at, namun ternyata ia tidak keluar untuk mengimami kami. Lalu kami
pun shalat sendiri. Waktu itu, Ibnu ‘Abbaas berada di Thaaif. Ketika pulang (ke
Madiinah), kami menyebutkan hal itu kepadanya, lalu ia berkata : ‘Ia telah
melakukan sesuai dengan sunnah” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1071].
Perkataan ‘kami pun
shalat sendiri’ menunjukkan ia tetap mengerjakan shalat Dhuhur, karena pada
waktu itu, shalat Jum’at tidak didirikan.
Keempat : Pernyataan bahwa
Ibnuz-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa tidak menambahkan shalat hingga
shalat ‘Ashar didasarkan fakta bahwa ‘Athaa’ tidak melihat Ibnuz-Zubair keluar
rumah mengimami manusia, sebagaimana terdapat dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah
2/187 (4/243) no. 5891 di atas. Namun, menyimpulkan fakta ini sebagai dalil
Ibnuz-Zubair tidak mengerjakan shalat Dhuhur terlalu lemah, karena bukan
mustahil Ibnuz-Zubair mengerjakan shalat Dhuhur di rumah sehingga tidak
diketahui 'Athaa' rahimahullah.
Pendapat di kalangan ulama madzhab empat.
Pertama, pendapat
madzhab al-Syafi’i yang mengatakan, bahwa ketika hari raya jatuh pada hari
Jum’at, maka penduduk kampung yang mendengar panggilan shalat id boleh pulang
dan meninggalkan shalat Jum’at. Kebolehan meninggalkan shalat Jum’at tersebut
berlaku, ketika mereka mengikuti shalat hari raya, dan seandainya mereka pulang
ke rumah mereka, maka mereka tidak akan dapat mengikuti shalat Jum’at.
Kebolehan meninggalkan shalat Jum’at bagi mereka semata-mata karena rukhshah,
keringanan dan dispensasi. Oleh karena itu, ketika penduduk desa itu tidak
menghadiri shalat id, maka mereka jelas wajib menghadiri shalat Jum’at.
Disamping itu, kebolehan penduduk desa itu meninggalkan shalat Jum’at,
disyaratkan pulang dari shalat id itu sebelum masuk waktunya Jum’at, yaitu
waktu zhuhur. Demikian pendapat golongan Syafi’iyah.
Kasus di
Madinah di awal Islam itu bisa dijadikan alasan, tetapi apakah kita di
Indonesia benar-benar mengalami nasib seperti itu?
Hal seperti
itu hanya di wilayah yg padanya hanya ada satu masjid, sebagaimana masa lalu
muslimin berdatangan dari wilayah perkampungan dan wilayah jauh, maka mereka
melakukan shalat ied saja, dan jika harus kembali lagi untuk jumat maka akan sangat
melelahkan, maka diudzurkan jumat dihari itu.
Beda dimasa
kini yang masjid sudah ada dimana mana, maka tak ada udzur untuk meninggalkan
jumat. Bagi kaum Muslimin di Indonesia yang mayoritas NU, hampir di setiap
dusun ada masjid, rata-rata kurang dari 1 km dan tidak melewati padang pasir.
Mengenai
udzur tsb adalah hadits riwayat Musnad Ahmad dan Ibn Khuzaimah bahwa Rasul saw
menjelaskan jika hal ini terjadi maka Rasul saw memberi izin rukhsah/kemudahan
untuk tidak melakukan jumat, dan barangsiapa yg ingin melakukan keduanya maka
lakukanlah keduanya” (Shahih Ibn Khuzaimah)
Dan
diperjelas pada riwayat shahih bahwa Nu’man bi Basyir ra berkata : “Rasul saw
membaca surat sabbihisma rabbikal a’la dan Hal ataaka pada shalat jumat dan
Ied, dan jika bersatu Ied dan Jumat pada satu hari maka membaca dua surat itu
pada keduanya” (Shahih Muslim Bab Maa yaqra’ filjum’ah, Shahih Ibn Khuzaimah,
Shahih Ibn Hibban, Musnad Ahmad, dan banyak lagi).
Kedua, pendapat
madzhab Hanafi dan Maliki. Menurut kedua madzhab ini, apabila hari raya jatuh
pada hari Jum’at, maka orang yang menghadiri shalat id tetap tidak dibolehkan
meninggalkan shalat Jum’at. Al-Imam al-Dusuqi berkata, baik mereka yang
menghadiri shalat id di kampungnya atau di luar daerahnya.
Ketiga, pendapat
madzhab Hanabilah. Menurut madzhab Hanbali, apabila hari raya jatuh pada hari
Jum’at, maka orang yang menghadiri shalat id dan melakukan shalat zhuhur, boleh
meninggalkan shalat Jum’at, dalam artian shalat Jum’at gugur bagi orang
tersebut. Menurut golongan Hanabilah, gugurnya shalat Jum’at itu hanyalah
gugurnya menghadiri Jum’at, bukan gugurnya kewajiban Jum’at. Sehingga posisi
orangyang menghadiri shalat id itu sama dengan orang-orang yang punya uzur
seperti orang sakit, atau punya kesibukan yang membolehkan meninggalkan shalat
Jum’at. Namun kewajiban shalat Jum’at tidak gugur bagi orang tersebut, dalam
artian, orang itu dapat menjadi sebab sahnya shalat Jum’at dan sah menjadi imam
Jum’at. Akan tetapi menurut golongan Hanabilah ini, menghadiri shalat Jum’at
jelas lebih utama. Walahu a’lam. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz
27, hal. 208).
Kesimpulan:
1.
Boleh bagi orang yang telah
mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum'at sebagaimana
berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat
lain yang menyelisihi pendapat ini.
2.
Pendapat kedua yang menyatakan boleh
bagi orang yang telah mengerjakan shalat 'ied tidak menghadiri shalat Jum'at,
ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia
telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama
dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.
3.
Mengatakan bahwa riwayat yang
menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang
yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat
Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya
‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan
telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden,
namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin
Khottob yang melakukan hal yang sama.
4.
Dianjurkan bagi imam masjid agar
tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at
atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah
anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu
dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin
Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma
robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin
Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at,
beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.
Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca
surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at
dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).
5.
Siapa saja yang tidak menghadiri
shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk
mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya
umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat
Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.